Ciptakan Pelayanan Berintegritas, Aparatur Pengadilan Tinggi Agama Samarinda Ikuti Diklat Service Excellence Bersama BRI
Samarinda – PTA Samarinda tegaskan komitmennya untuk mewujudkan pelayanan prima dengan menggelar Diklat Di Tempat Kerja (DDTK) Service Excellence pada Rabu (24/9/2025). Bekerja sama dengan BRI Branch Office Samarinda Gajah Mada, pelatihan ini diikuti oleh seluruh aparatur, termasuk petugas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan keamanan yang menjadi garda terdepan interaksi dengan masyarakat.

Foto Ketua dan Wakil Ketua PTA Samarinda dengan Narasumber pada acara DDTK service excellence
Pembukaan dan Penekanan Ketua PTA Samarinda
Acara dibuka dengan khidmat oleh Master of Ceremony (MC), dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Hymne Mahkamah Agung, dan Mars PTA Samarinda. Dalam sambutannya, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Samarinda Dr. H. Mame Sadafal, M.H. menyampaikan bahwa upaya memberikan pelayanan kepada masyarakat juga merupakan bagian dari ibadah.
"Sebagai lembaga peradilan, penilaian dari masyarakat tidak hanya diukur dari produk akhir putusan, melainkan dari wajah peradilan itu sendiri, yaitu layanannya," tegas Mame Sadafal. Ia juga mengingatkan bahwa seiring perkembangan teknologi, kehati-hatian dalam memberikan pelayanan terbaik menjadi krusial. Hal tersebut menyoroti peran penting petugas PTSP dan keamanan sebagai garda terdepan.
"Pada DDTK ini, capaian yang diharapkan adalah tumbuhnya sikap empati dan ramah terhadap masyarakat, serta menjunjung tinggi sikap adil, jujur, dan berintegritas, sehingga pelayanan yang prima dan berintegritas dapat terwujud," tambahnya.

Foto sambutan ketua Pengadilan Tinggi Agama Samarinda Dr H. Mame Sadafal M.H.
Materi Inti: Membangun Service Excellence dari Berbagai Perspektif BRI
Sesi inti pelatihan menghadirkan tiga narasumber ahli dari BRI Branch Office Samarinda Gajah Mada. Destri Sano Rego, Relationship Manager, mengawali dengan observasinya bahwa pelayanan di PTA Samarinda sudah baik. Meski begitu, diperlukan sentuhan penyempurnaan, khususnya di bagian satpam dan PTSP.
Yenny Andriani, Supervisor Operasional Layanan, mendefinisikan Service Excellence sebagai upaya memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan untuk menciptakan kepuasan. Ia juga memaparkan alasan pentingnya layanan prima, yaitu adanya kompetitor, adanya customer, dan juga ciri khas instansi. "Pelayanan itu tidak apa-apa sederhana, tapi dampaknya harus puas. Pelanggan adalah alasan Anda bekerja. Jika mereka pergi, pekerjaan Anda juga akan pergi," tandasnya.
Yenny Andriani kemudian menguraikan Tiga Pilar Layanan (3P) yang krusial, yang terdiri dari People (menekankan pada penampilan, sikap, dan skill), Premises (meliputi area parkir, lobi, hingga back office), dan Process (menjamin layanan yang cepat, aman, dan akurat). Ia juga menambahkan poin krusial lainnya yaitu "First Impression" yang terbentuk hanya dalam waktu sekitar 3 detik, di mana elemen penting untuk membangunnya meliputi wajah, penampilan, bahasa tubuh, dan ketepatan waktu.
Melanjutkan materi, Muhammad Taufik Erryawan, Universal Banker, menekankan pentingnya Pengalaman Nasabah (Customer Experience), dengan menyatakan, "Apapun yang kita berikan saat pelayanan akan selalu diingat oleh customer," dengan merujuk pada "3D" yaitu dilihat, didengar, dan dirasakan. Ia juga membagikan tips komunikasi dengan langkah-langkah antara lain Tenang, Upayakan Menyimak, Nyatakan Maaf dan Pengertian, Telusuri Permasalahan, Ajukan Solusi, dan Selesaikan dengan Positif.

Foto penyampaian materi dari Muhammad Taufik Erryawan narasumber dari BRI
Diskusi Interaktif dan Praktik Langsung (Role Play)
Pelatihan menjadi semakin interaktif selama sesi tanya jawab, di mana berbagai skenario nyata dibahas. Di antaranya adalah pertanyaan dari Aderi, Panitera Muda Banding, mengenai cara menyikapi telepon penipuan yang mengaku dari bank, yang dijawab oleh Yenny dan Eri agar tetap merespons dengan empati sesuai SOP sambil waspada karena BRI tidak pernah meminta data rahasia dan selalu menggunakan nomor telepon kantor resmi. Dibahas pula kasus dari Dihan, Hakim Tinggi PTA Samarinda, mengenai cara menangani komplain hak asuh anak dan masalah pribadi di tempat kerja, di mana Destri dan Eri menekankan pentingnya profesionalisme dan pemilihan tutur kata yang tepat. Pertanyaan dari Rumaidi, Panitera Muda Hukum, mengenai waris juga dijawab dengan saran untuk tetap memberikan penjelasan sesuai SOP dengan tutur kata yang santun.
Selain itu, Bapak Muflikh Hakim Tinggi PTA Samarinda turut berbagi pengalamannya yang beragam, mulai dari situasi tegang saat masyarakat yang membawa sajam ke ruang persidangan hingga pengalamannya sebagai nasabah yang melihat pegawai bank menarik napas saat melayani nasabah dan pelayanan saat panarikan uang tunai. Menanggapi hal tersebut, tim narasumber menilai respons saat insiden di persidangan sudah benar, dan Destri menjelaskan bahwa pengarahan ke ATM untuk penarikan uang tunai telah sesuai SOP digitalisasi, namun ia mengakui gestur seperti menarik napas seharusnya dilakukan di belakang layar untuk menghindari miskomunikasi dalam pelayanan.
Menjelang akhir acara, atas permintaan Wakil Ketua PTA Samarinda, sesi praktik langsung (role play) digelar. Tim BRI mendemonstrasikan contoh pelayanan prima, mulai dari cara duduk, tersenyum, hingga menyebut nama pelanggan sebanyak tiga kali untuk membangun kedekatan personal. Para peserta dari PTSP kemudian mempraktikkan skenario layanan, dengan perbandingan antara contoh pelayanan yang salah dan yang benar.
Penutup: Pelayanan adalah Ibadah
Pelatihan ini diharapkan dapat menanamkan pola pikir bahwa pekerjaan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari ibadah. Melakukannya harus dengan kesungguhan dan keikhlasan. "Memberikan pelayanan prima adalah meninggalkan ego, tanpa meninggalkan keinginan untuk terus belajar agar dapat memberikan yang terbaik," tutup perwakilan BRI. Dengan sinergi antara Pengadilan Tinggi Agama Samarinda dan BRI, diharapkan standar pelayanan di lingkungan peradilan agama dapat terus meningkat, sejalan dengan visi Mahkamah Agung untuk mewujudkan badan peradilan yang agung. (sfy)

Foto bersama aparatur pengadilan tinggi agama samarinda beserta narasumber dari BRI
