PEMBINAAN MENTAL DENGAN TEMA: KONSEP IMAN DALAM MENJAWAB UJIAN HIDUP
Samarinda | 24 Januari 2022
Pembinaan mental merupakan rutinitas wajib yang dilaksanakan Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Samarinda. Dalamkesempatan kali ini, Pemateripembinaan mental diberikan oleh Ibu Hakim Tinggi, Dr.Hj. Lailatul Arofah, M.H. dengan tema “Konsep Iman dalam Menjawab Ujian Hidup”.
Ibu Laila menyampaikan, siapapun kita, dalam mengarungi Samudra kehidupan tentu pasti akan menemukan 2 (dua) hal, yaitu hal yang menyenangkan dan hal yang tidak menyenangkan. Sesusah apapun orang tersebut, tentunya juga pernah merasakan hal-hal yang menyenangkan, begitu pun sebaliknya. Namun demikian, tiap orang juga tentunya memiliki frekuensi yang berbeda-beda dalam mendapatkan hal yang membahagiakan dan menyedihkan. Perbedaan tersebut juga tergantung bagaimana masing-masing orang dalam menyikapinya.
Allah mengisyaratkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Mulk ayat 2 bahwa hidup ini adalah Ujian:
الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم ايكم احسن عملا
Artinya:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
Jadi Allah menjadikan ujian sebagai penentu siapakah yang paling baik amal perbuatannya. Kemudian segalaapapun yang terjadi di dalam hidup, berbaik sangkalah kepada Allah, karena sesungguhnya segala apa yang terjadi merupakan scenario indah dari Allah.
Ujian hidup itu ada dua jenis, yakni keburukan dan kebaikan atau sesuatu yang tidak menyenangkan dengan sesuatu yang menyenangkan. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 35 :
كل نفس ذائقة الموت ونبلوكم با الشر والخير فتنة والينا ترجعون
Artinya :
“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”
Terkadang kita melihat orang-orang yang ditimpa kesedihan berturut-turut itu sebagai hukuman dari Allah kepada orang tersebut, padahal sebenarnya tidak. Begitu pun juga orang yang diberikan kebahagian oleh Allah, kita mengira orang tersebut dimuliakan oleh Allah, belum tentu. Kebaika nmaupun keburukan adalah ujian dari Allah. Sehingga konsep iman untuk menjawab ujian-ujian tersebut ada pada Hadits Rasulullah SAW. Dalam hadits tersebut, Rasulullah menyampaikan bahwa iman itu terdiri dari 2 bagian, yaitu separuh iman adalah dengan bersyukur, dan separuhnya lagi iman itu adalah dengan bersabar. Jika orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan, lalu ia bersyukur, dan orang yang ditimpa musibah ia bersabar, maka ia telah lulus dalam menghadapi ujian yang telah diberikan oleh Allah. Jadi semua tergantung bagaimana cara kita menyikapi ujian-ujian tersebut.
Pada akhir pembinaannya, ibu Laila mengajak semua hadirin untuk bersama-sama menyikapi setiap ujian dari oleh dengan konsep iman, yaitu bersyukur dan bersabar. Kesedihan itu manusiawi, namun jika kita menyikapinya dengan konsep iman, memandang dari sisi-sisi positifnya, maka tentu tidak akan mudah membuat kita stress.
Selanjutnya Acara diakhiri denga npengarahan dari Bapak Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Samarinda, Drs. Hamdani S., S.H., M.H. yang pada pokoknya menggarisbawahi apa yang menjadi materi ceramah hari ini agar diamalkan.
